Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Tuesday, 17 March 2015

Efek Jangka Panjang Jajanan Tak Sehat

Dari beberarapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa jajanan tidak sehat sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Makin ke sini, jenisnya makin bervariasi. Penggunaan bahan tambahan pangan dan bahan pengawet dianggap berbahaya apabila melebihi nilai ambang batas. Ketentuan ambang batas aman di tiap negara bisa berbeda-beda. Di Eropa misalnya, penggunaan zat formaldehyde untuk di Uni Eropa masih diizinkan, tapi ada nilai maksimalnya. Namun, negara seperti Jerman, sama sekali tidak mengizinkan. Begitu juga zat seperti formalin dan boraks, ada batas maksimalnya. Sedangkan untuk pewarna, ketentuannya tidak menggunakan ukuran ambang batas, melainkan ada daftar beberapa warna yang sama sekali tidak boleh dipakai.
TCF-4
Idealnya, produsen makanan (termasuk pedagang kecil) seharusnya mengantongi sertifikat hasil uji makanannya di laboratorium yang menunjukkan bahwa penggunaan bahan tambahan pangannya tidak melebihi ambang batas. Sehingga, makanan tersebut layak dikonsumsi.
Penggunaan bahan tambahan pangan yang melebihi ambang batas bisa menimbulkan efek jangka panjang yang berbahaya pada anak. Efek samping itu antara lain, genotoksisitas (kerusakan DNA yang menyebabkan kanker), merusak kesuburan dan reproduksi.
Efek ini termasuk efek jangka panjang, bisa bertahun-tahun baru terlihat. Kalaupun bisa terlihat langsung biasanya jika dikonsumsi dalam jumlah sering dan besar.
Selain itu, hal yang perlu dicermati juga adalah soal cara pengolahan dan tempat menjajakan jajanan, karena sering kali tidak memperhatikan kebersihan. Faktor kesadaran higienis dan sanitasi di kita masih sangat rendah. Mengenai konsepsi gaya hidup sehat, dari hal yang sepele saja, seperti kesadaran soal cuci tangan.
Berapa banyak orang yang cuci tangan setelah dari toilet? Kalau perilaku mereka soal cuci tangan saja tidak benar, bagaimana mereka bisa dipercaya mengelola makanan?
Makanan mudah sekali terkontaminasi bakteri. Beberapa jenis bakteri itu antara lain Salmonella, Shigella, Amoeba, Campylobacter, cacing, dan Escherichia coli (e-coli). Bakteri yang masuk ke saluran cerna bisa menyebabkan keracunan makanan dan infeksi pada saluran cerna. Penyakit yang paling sering ditemukan yang disebabkan oleh makanan yaitu muntah, diare, dan keracunan makanan.
Bakteri seperti Salmonella typhi, seperti kita tahu, adalah penyebab penyakit tifus. Angka kejadian  penyakit tifus ini masih cukup tinggi. Menurut situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC), angka penderita penyakit tifus di seluruh dunia sebanyak 21,5 kasus per tahunnya. Kejadian paling banyak ditemukan di negara-negara berkembang.
Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO) juga mencatat, diare mengancam nyawa dan berisiko menyebabkan kematian. Tiap tahunnya, penyakit ini mengakibatkan kematian 760.000 anak di dunia.
Mengapa anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa? Jawabannya, karena  terkait ke berat badan. Satuan untuk menunjukkan angka melebihi ambang batas itu menggunakan miligram per kilogram berat badan. Berat badan pada anak-anak lebih ringan daripada orang dewasa, sehingga lebih mudah terpapar.
Mengenai ancaman jahatnya efek bahan berbahaya pada anak, pemerintah sudah menyadari hal itu. Komitmen itu pun sudah ada. Salah satu aksi yang patut diapresiasi sejak tahun lalu, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, dan BPOM telah mencanangkan kampanye Hari Bawa Bekal Nasional di sekolah-sekolah. Kampanye ini mengajak para orang tua untuk menyiapkan bekal yang bersih dan sehat. Juga, supaya anak-anak terhindar dari jajan sembarangan.
Kita tidak bisa hanya menggantungkan tanggungjawab kepada pemerintah saja, tapi harus ada dukungan dari berbagai pihak diantaranya guru disekolah dan terutama orang tua di rumah. Keterlibatan dari pihak lain yang peduli terhadap masalah ini pun diharapkan tetap terjalin. Komunitas penggiat yang terjun baik secara langsung juga diharapkan bisa aktif memberikan kontribusi dalam penanggulangan masalah ini.
Semoga dengan banyaknya pihak yang peduli, bahaya akan efek jajanan tidak sehat dapat di minimalisir dari sekarang. [Anna/KWKT]

Cheesy Macaroni Croquet


C360_2014-09-05-16-59-09-073
Industri kreatif rumahan semakin menggeliat di Tasikmalaya dan sekitarnya.  Tidak saja menjadi konsumsi pribadi, tetapi sudah mulai dijadikan salah satu produksi bisnis yang menjanjikan. Di grup facebok Wisata Kuliner Tasikmalaya, para pelaku industri kuliner rumahan ini mulai terlihat ramai. Mereka memang belum memiliki tempat untuk berjualan, tapi bukan berarti harus menghentikan kreativitas mereka. Sistem penjualan Delivery Order menjadi pilihan dan sosial media menjadi promosi yang efektif untuk usaha mereka.
Salah satu yang sudah kami coba adalah Cheesy Macaroni Croquet yang merupakan kreasi dari pasangan suami istri Andre Herlambang dan Fifi. Terbuat dari pasta makaroni, smoke beef, susu, sayuran (irisan wortel dan bawang daun), serta tentu saja keju, menjadi camilan sedap yang bisa dihidangkan setiap saat. Croquet berbentuk bola-bola ini berbalut tepung panir nikmat disajikan hangat untuk menemani secangkir kopi atau segelas teh manis panas. Semakin sedap kalau dimakan dengan cabe rawit atau dicocol saus sambal atau mayonaise.
Harga per kemasan isi 6 buah ; Rp. 10.000,-
Tertarik untuk mencoba? Silakan order langsung ke ownernya (Andre Herlambang) melalui telepon : 081313743646, atau datang langsung ke alamatnya di Perum Graha Persada Blok K no. 3, Sindangkasih Ciamis.
#HB #IW

Bakso Gejrot, Selera Kampung


CYMERA_20140912_151534
Tidak diragukan lagi kalau Tasikmalaya semakin mengukuhkan diri sebagai kota bakso. Beragam jenis bakso tersedia sebagai pilihan, menyesuaikan dengan selera konsumen yang juga tak kalah beragam. Setiap saat, para pedagang bakso bermunculan satu per satu, menambah semarak dan melengkapi jumlah pedagang yang sudah ada di setiap penjuru kota.
Bakso memang jenis jajanan mainstream yang disukai berbagai kalangan. Inilah salah satu kuliner yang tampaknya akan terus bertahan dan tidak akan lekang oleh pergantian zaman. Bagaimana tidak, ratusan pedagang bakso menyebar di setiap ruas jalan, dan semuanya terus bertahan serta memiliki pelanggan tersendiri. Tampaknya tidak ada masyarakat Tasikmalaya yang tidak suka bakso. Bakso sudah menjadi kuliner buruan nomor satu!
Kalau anda memang pecinta bakso, yang satu ini tentu tidak boleh terlewatkan. Bakso Gejrot Selera Kampung adalah salah satu warung bakso baru yang beralamat di Jalan Cempaka Warna (Gapura Pasar Kidul), Gang Mawar Tasikmalaya. Menurut Pak Dede Redi, owner dari Bakso Gejrot ini, tagline ‘Selera Kampung’ sengaja disematkan karena cita rasanya yang seperti bakso-bakso kampung tempo dulu, bukan jenis bakso toko seperti yang banyak beredar sekarang ini.
Bakso Gejrot menawarkan sensasi tersendiri dengan bakso-baksonya yang berisi gajih di dalamnya. Pas baksonya digigit, ada sensasi ‘gejrot’ dari isian gajihnya yang gurih. Mau sensasi yang lebih luar biasa? Berarti anda harus memesan bakso super jumbo. Bakso urat dengan ukuran satu mangkuk full ini benar-benar bisa memuaskan anda yang benar-benar baksoholic. Itupun kalau perut anda cukup muat. Tidak heran kalau Pak Dede menyebut bakso jumbo ini dengan sebutan ‘Bakso Astagfirullah’ saking banyaknya pelanggan yang terkaget-kaget saat melihatnya. Untuk pelengkapnya sendiri, Bakso Gejrot menggunakan mi dan tauge dengan porsi cukup.
Buat anda yang ingin mencoba bakso jumbo tapi tidak yakin bisa menghabiskannya sendiri, satu porsi bakso ini cukup untuk 4 orang. Tentu dengan memesan mie-nya masing-masing. Pak Dede menjamin baksonya terbuat dari 100% daging sapi, bebas dari formalin dan borax, karena semua baksonya dibuat sendiri. Demikian pula dengan mie-nya.
Satu porsi Bakso Gejrot (bakso kecil) dihargai Rp. 5.000,-, sementara untuk Bakso Jumbo harganya Rp. 25.000,- per porsi.
Bakso Gejrot melayani Delivery Order dengan pembelian minimum Rp. 40.000,-. Silakan menghubungi langsung nomor : 082316413050.
Siap untuk memburu bakso ini?

http://kulinertasik.com/2014/09/12/bakso-gejrot-selera-kampung/ iwok abqari/KWKT

Coba Cake, Unik dan Lezat

Pernah mencoba makan pisang dengan kulitnya? Kalau belum, ini kesempatan anda untuk mencobanya. Tetapi, pisang apakah ini?
IMG-20150127-WA0001
Industri kreatif memang tidak pernah mati, selalu hadir dan berkembang seiring perkembangan zaman. Di setiap bidang, tidak dimungkiri kalau kreativitas menjadi salah salah satu kunci keberhasilan sebuah mata rantai usaha. Seperti yang dilakukan oleh pasangan Dewi Wulandari dan Rizal Abdul Aziz. Kreativitas mereka dalam mengolah sebuah penganan menjadi hal yang tidak biasa, akhirnya berbuah manis. Usaha yang mereka kelola mereka mulai menampakkan hasilnya.
Coba Cake adalah brand dari hasil kreativitas pasangan suami istri ini, dan merupakan singkatan dari Choco Banana Cake. Kemampuan mereka dalam membuat bolu pisang (banana cake) yang lezat, dipadu dengan olahan kreativitas mereka untuk memberi sentuhan dan kemasan yang unik dan berbeda. Hasilnya, banana cake yang empuk dan lembut dibentuk menyerupai sebuah pisang. Tentu tidak hanya seperti itu cara mereka merebut perhatian pasar penikmat kuliner. Cake yang sudah dibentuk dibalut coklat cair warna kuning serupa kulit pisang. Agar tampilannya semakin mirip, dark chocolate pun ditambahkan di beberapa bagian untuk melengkapi wujud pisang yang sebenarnya. Eye catchy sekali, bukan?
Dibutuhkan sebuah usaha dan kerja keras untuk sebuah keberhasilan. Terinspirasi dari sebuah produk serupa di kota lain, Dewi dan Rizal mengembangkan inovasi dan kreativitasnya dengan mengolah kemampuan yang mereka miliki dalam membuat kue. Tentunya disesuaikan dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh di Tasikmalaya. Pemilihan bahan pun dilakukan dengan menyisir setiap toko bahan kue. Selanjutnya mereka melakukan proses pembuatan bolu pisang berulang kali untuk mendapatkan cita rasa yang pas.
Bukan berarti usaha mereka tidak mengalami hambatan pada awalnya. “Kami sulit sekali mencari cokelat yang warnanya menyerupai kulit pisang, tapi rasanya tidak berbenturan sama cake-nya,” papar Dewi. “Setelah dapat, proses melelehkan cokelatnya pun ternyata tidak mudah. Berkilo-kilo cokelat gagal digunakan pada saat uji coba itu.”
Resiko gagal rentan terjadi pada industri kue seperti ini, apalagi untuk mereka yang baru memulai. Dewi dan Rizal mengalami hal tersebut. “Dalam sehari, selalu saja ada adonan kue yang gagal. Tapi saya tidak kapok. Alhamdulillah, semakin banyak gagal ternyata saya semakin banyak belajar dari kesalahan yang harus diperbaiki. Dan itu mendekatkan saya pada kesuksesan.”
IMG-20150127-WA0003
Mereka yang sering berinteraksi di grup facebook Wisata Kuliner Tasik, tentu tidak asing dengan pisang yang satu ini. Coba Cake adalah sebuah industri rumahan yang baru dipasarkan melalui sistem delivery order (DO). Meskipun belum memiliki lokasi permanen sebagai media pemasaran, peminatnya sudah mulai menyebar di wilayah Tasikmalaya. Menurut Dewi, usaha ini baru ditekuni sejak bulan Oktober 2014, tapi sudah cukup berhasil menarik minat. Terbukti dengan banyaknya pesanan yang berdatangan setiap harinya.
Coba Cake hadir dengan berbagai varian rasa, di antaranya; original, cokelat, blueberry, dan keju. Satu boks ukuran besar berisi 6 buah, sementara ukuran kecil berisi 14 buah. Harga per satu boks Rp. 35.000,- (kecuali untuk rasa keju Rp. 37.000,-). Kalau menginginkan satu boks isi berbeda rasa juga bisa, asal disampaikan pada saat pemesanan. Pemesanan bisa dengan menghubungi nomor: 085353666336 atau pin BBM: 519BC191.
Tertarik mencoba makan pisang sekaligus dengan kulitnya? Coba Cake adalah solusinya. Selamat mencoba.[Heny/Iwok]

http://kulinertasik.com/2015/03/17/coba-cake-unik-dan-lezat/

Berburu Nasi TO di Tasikmalaya

Tidak bisa dipungkiri, sajian kuliner menjadi salah satu daya tarik wisata pada saat ini. Para pelaku wisata tidak bisa lagi mengabaikan jajaran kuliner khas yang ada di daerah yang sedang dikunjungi. Selain mengunjungi objek wisata budaya dan alam, kuliner benar-benar menjadi pelengkap dunia pariwisata yang tidak boleh dilewatkan. Selain memiliki kekhasan tersendiri, kapan lagi kita bisa mencicipi sebuah kuliner di tempat aslinya?
TO-1
Beragam kuliner tradisional semakin terangkat seiring dunia pariwisata yang terus menggeliat. Setiap kota menunjukkan kekhasan masing-masing. Di Yogyakarta, penjual gudeg tersedia di mana-mana. Di  Solo, sajian Selat Solo maupun Nasi Liwetnya selalu menjadi buruan yang tak boleh dilewatkan. Begitu pula dengan Bandung, rasanya tidak lengkap kalau tidak memburu batagor maupun baso tahunya yang terkenal lezat. Jauh ke Makasar, Sop Konro dan Coto Makasar menjadi santapan wajib kalau berkunjung ke sana.
Bagaimana dengan Tasikmalaya? Rasanya tak berlebihan kalau saat ini Tasikmalaya dikenal sebagai kota Tutug Oncom (selain juga dikenal dengan baksonya).  Nasi TO sudah semakin membumi di Tasikmalaya, hingga di setiap ruas jalan bisa ditemukan pedagang kuliner ini dengan mudah. Yang jelas, nasi TO adalah sajian sederhana tapi tidak kalah nikmatnya dibanding makanan lain. Hanya berbekal nasi putih panas, oncom, beberapa siung bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe, sebuah sajian nikmat bisa terhidang cepat di atas meja. Sebagai pelengkap, Nasi TO biasanya disajikan dengan sambel hejo dan gorengan tempe. Sederhana sekali, bukan?
Sejarah menjamurnya Nasi TO di Tasikmalaya tentu tidak lepas dari keberadaan Warung TO Benhil di daerah Dadaha (depan Kampus UPI Tasikmalaya), meski tidak dipungkiri mungkin ada warung TO lain yang sudah berdiri sebelum itu. Sepengetahuan saya, Warung TO Benhil sudah ada sejak awal tahun 2000-an. Tampaknya warung ini adalah cikal bakal betapa sebuah warung TO bisa menjadi tren tersendiri di kemudian hari. Meskipun tidak memiliki tempat yang representatif, Warung TO Benhil Dadaha ini mencuat sebagai tujuan kuliner yang murah dan nikmat. Pembelinya membludak! Untuk memesan sebungkus nasi TO bahkan harus rela antri dalam waktu yang cukup lama.
TO-2
Menarik sekali melihat sebuah sajian sederhana dan murah berubah menjadi buruan setiap kalangan masyarakat. Hal ini bisa disaksikan dengan berderetnya kendaraan roda 2 dan roda 4 di sepanjang ruas jalan di sekitar lokasi penjual Nasi TO. Hal ini cukup membuktikan bahwa makanan murah tidak lantas menjadi murahan. Apalagi, belakangan ini semakin banyak warung-warung Nasi TO dengan menyediakan tempat yang lebih nyaman, seperti Nasi TO Mr. Rahmat atau Warung Seuhah di seputaran Jalan BKR Tasikmalaya. Beberapa rumah makan bahkan sudah memasukkan Nasi TO ini ke dalam daftar menu yang disajikannya.
Nasi TO memiliki kandungan nilai dan mutu gizi  yang cukup baik. Dari oncom yang menjadi bahan utama kuliner ini ternyata memiliki sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi, sehingga kita tak perlu khawatir lagi dengan gizi yang terkandung  di dalamnya.
Keberhasilan beberapa warung Nasi TO meraup pelanggan pada akhirnya mendapat sejumlah pengikutnya. Berbagai warung TO serentak hadir di seluruh penjuru kota. Cita rasa mungkin sedikit berbeda-beda, tapi tetap menawarkan kenikmatan dan kemurahan yang sama. Nasi TO menjadi wabah dan mulai masuk daftar kuliner yang harus disantap kalau memasuki kota Tasikmalaya.
Anda setuju dengan saya?

http://kulinertasik.com/2015/03/17/berburu-nasi-to-di-tasikmalaya/ by IWOK ABQARI KWKT

Lemona Bakery & Resto

Melewati Jalan BKR saat ini akan terasa bedanya dengan beberapa tahun sebelumnya. Kalau dulu, sepanjang jalan ini merupakan ruas jalan yang sepi penuh pesawahan di kiri-kanan jalan, kali ini sudah sangat jauh berubah. Pesawahan sudah semakin menghilang perlahan, digantikan bangunan-bangunan permanen dan … tempat makan!
Lemona-1
Ya, Jalan BKR sudah beralih fungsi dari jalanan sepi menjadi salah satu sentra kuliner di Tasikmalaya. Tempat-tempat kuliner mulai menjamur dan bertumbuh di setiap ruas jalan, mulai dari ujung yang satu ke ujung lainnya. Berada tidak jauh dari pusat aktivitas olahraga—Dadaha—dan pusat kota, jalan BKR menjadi area yang sangat mudah dijangkau. Tidak heran kalau penikmat kuliner semakin memadati setiap lokasi kuliner yang berada di sepanjang jalan ini.
Lemona Resto adalah salah satu yang pertama kali memulai meramaikan sentra kuliner ini. Mengusung konsep family resto, Lemona menawarkan suasana yang nyaman dan menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga. Pengunjung bisa menempati deretan meja yang berada di lantai bawah, bersantap sambil menikmati suasana jalanan yang ramai. Atau, bisa juga duduk-duduk di lantai 2 yang lebih lapang dan luas dengan deretan meja-kursi atau tempat-tempat lesehan. Dengan kebersihan dan kenyamanan yang selalu terjaga, Lemona Resto menjadi tempat yang asyik untuk dikunjungi.
Lemona-2
Tentu lokasi yang nyaman tidak akan menjadi lengkap kalau tidak didukung oleh sajian yang lezat dan menggoda selera. Lemona Resto tampaknya tahu persis bagaimana memanjakan selera pengunjungnya. Ragam menu oriental, western, sampai ke menu nusantara siap dihidangkan. Tidak kurang dari menu puyung hay, sapo tahu, udang goreng tepung, beef steak, beef mushroom, beef cheese, sapi lada hitam, kangkung cah, juan lo/steam bot, bakar ayam madu, mie siram, ramen, sampai ke menu mainstream seperti nasi goreng, ayam goreng, mie goreng, dan bakso, lengkap dijadikan menu pilihan. Tentu dengan cita rasa dan kelezatan tersendiri. Ah ya, jangan lupakan deretan dessert yang menggoda. Red velvet dan tiramisunya benar-benar rekomended untuk dicoba!
Lemona Resto berlokasi di Jalan Raya BKR Tasikmalaya, tepat berseberangan dengan komplek perumahan BKR Regency dan sebuah minimarket. Anda tidak akan melewatkannya kalau melewati jalan ini, karena di depannya pun terdapat sebuah bilboar yang cukup besar.
Ngomongin Lemona tentu tidak akan lepas dari bayangan variasi roti dan kue. Ya, Lemona memang lebih dulu dikenal sebagai produsen roti unggulan di Tasikmalaya, sebelum kemudian melebarkan usahanya pada pengelolaan industri kuliner lainnya. Karena itu, bagi anda yang sudah jatuh cinta terhadap roti-roti Lemona dan ingin sekalian berbelanja, jangan khawatir. Anda bisa mendapatkannya pula di tempat ini. Di lantai bawah terdapat toko roti dengan produknya yang tidak kalah lengkapnya dengan yang tersedia di Toko pusatnya di Jl. Perintis Kemerdekaan atau cabang lainnya di Jl. Dr. Sukarjo Tasikmalaya.
Nah, tunggu apa lagi? Jangan ngaku pecinta kuliner kalau anda melewatkan tempat yang satu ini.

http://kulinertasik.com/2015/03/17/lemona-bakery-resto/ by iwok abqari  KWKT

Ngopi Asyik di Coffee Shop

Buat orang awam, secangkir kopi mungkin tak pernah terlihat beda; hitam dan pahit. Pada kenyataannya, banyak ragam dan varian biji kopi yang dihasilkan para petani kopi di Indonesia. Jeni kopi terdiri dari 4 macam, yaitu Arabica, Robusta, Excelsa, dan Liberia. Hanya saja, yang paling banyak dikonsumsi di dunia adalah arabica dan robusta.  Sementara varietasnya yang ada di Indonesia jauh lebih banyak lagi, di antaranya; Pasundan, Aceh Gayo, Sunda Aromanis,  Robusta Flores, Robusta Pekalongan, Toraja, Manggarai, Malabar, dan masih banyak lagi. Keragaman inilah yang kemudian menciptakan sensasi rasa yang berbeda-beda saat disesap. Itulah yang akhirnya diburu oleh para penikmat kopi, karena tak ubahnya jenis minuman lain, kopi pun bisa memiliki banyak rasa.
Baretto-3
“Selain biji kopinya, yang membedakan cita rasa secangkir kopi adalah cara penyeduhannya. Beda penyeduhannya, akan berbeda pula rasanya,” ujar Roni, salah seorang barista (peracik kopi) di Rumah Kopi Baretto. Dalam prosesnya, banyak sekali alat seduh yang digunakan agar menciptakan sajian kopi menjadi berbeda. Menyeduh kopi tidak lagi dilakukan dengan hanya menambahkan air panas saja, tetapi sudah menggunakan berbagai alat bantu lain hingga mesin yang paling  modern sekalipun. Berbagai proses penyajian dilakukan dengan beragam cara;  pour over, french press, aero press, syphon, yang mungkin akan terdengar tidak familiar untuk masyarakat awam. Tapi, melalui cara penyajian seperti ini berbagai varian kopi pun akhirnya tersaji istimewa.
Kopi tubruk adalah cikal bakal dari seluruh sajian kopi saat ini. Tapi seiring perkembangan zaman, penikmat kopi dimanjakan dengan sajian yang lebih modern. Sebut saja varian kopi seperti  espresso, cappucino, mochacino, caffe latte, machiato, dan lain-lain.  Menu-menu  kopi seperti inilah yang disajikan di setiap coffee shop yang saat ini mulai menjamur di Tasikmalaya. Dan yang menarik, coffee shop menjelma menjadi tren baru sebagai tempat nongkrong asyik saat ini. Kumpulan anak muda menjadi pemandangan umum yang terlihat di setiap sudut warung kopi yang tersebar di berbagai wilayah di Tasikmalaya. Segelas kopi tentu saja tersaji di hadapan mereka, menemani perbincangan hangat yang terjadi.
“Saya suka ngopi di coffee shop bukan semata-mata karena kopinya saja, tapi nyari suasana buat nongkrongnya,” kata Heny, salah seorang member KWKT yang lebih memilih kopi Robusta dibanding Arabica, karena rasanya lebih kuat, katanya. Ia biasa memesan vietnam drip with milk dengan biji kopi Robusta Flores kalau sedang hangout di coffee shop.  Makanya Heny sering mencari lokasi ngopi yang suasananya bikin betah.
Baretto-2
Alasan serupa disampaikan Sugih Riyanto yang suka ngopi di coffee shop karena bisa sekalian ngumpul bareng teman-temannya. “Ngopi asyik itu tidak cukup satu atau dua jam karena diselingi ngobrol ngaler-ngidul, sehingga butuh tempat yang tidak bisa diganggu.”.  Tidak heran kalau dalam seminggu Sugih bisa 4 sampai 5 kali nongkrong di coffee shop. Biasanya setelah pulang kerja ia akan langsung meluncur ke coffee shop favoritnya.
Lain lagi dengan Gian Adel. Ia senang sekali mengunjungi warung-warung kopi karena menurutnya setiap coffee shop memiliki konsep yang berbeda-beda. “Segelas kopi di coffee shop yang berbeda memberikan cerita yang berbeda pula,” ujarnya.
Tidak dapat dipungkiri kalau kandungan kafein dalam kopi dapat membangkitkan energi dan semangat dalam tubuh, termasuk membuat pikiran menjadi lebih rileks. Alasan inilah yang dikemukakan Aivi tentang hobinya ngopi di coffee shop. “Coffee shop jadi semacam pelarian untuk refreshing dan mengistirahatkan pikiran, karena setiap harinya aku disibukkan dengan kegiatan mengejar omzet jualan, penat memikirkan marketing maupun branding produk yang dijual.”
Pada akhirnya, coffee shop tidak hanya sebagai tongkrongan biasa karena banyak hal yang menarik yang bisa dilihat, termasuk pembelajaran tentang seluk-beluk dunia kopi. “Melihat barista meracik kopi itu asyik!” kata Aivi. “Mulai dari menggiling, penambahan air, sampai pembuatan latte art menggunakan foam dari susu. Aku juga jadi tahu cara membedakan berbagai macam rasa kopi, mulai dari tingkat keasaman, sensasi buah-buahan yang dicecap, hingga pengetahuan mengenai aneka biji kopi dari setiap daerah penghasil.”
Saat ini, banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi para penikmat kopi di Tasikmalaya. Di antaranya; Rumah Kopi Baretto, Osmosis Coffee, Par Coffee, Express Coffee, Ngopitiam, Pergola, Kopi Lawas, Coffee Talk, Photongopi, Bross Coffee, Kopi Dadas, dan masih banyak yang lain.  So, buat yang pengen nongkrong sambil ngopi-ngopi asyik, tempat-tempat tersebut bisa jadi pilihan anda.

http://kulinertasik.com/2015/03/17/ngopi-asyik-di-coffee-shop/ by iwok abqari/KWKT

Pecel Oranye, Pecel Legenda!

Berbicara masalah pecel di Tasikmalaya, area seputar Jalan Kalektoran tentu tidak boleh dilewatkan. Siapa tidak mengenal cita rasa pecel Bi Iyoy atau Bi Encar? Nama keduanya bahkan sudah dikenal jauh ke luar kota serta menjadi salah satu lokasi wisata kuliner bagi wisatawan yang datang ke Tasikmalaya. Atau pecel Bi Oma yang berlokasi di seputaran jalan Sutisna Senjaya (belakang Bank BTN)? Yang satu ini pun sudah menjadi buruan pecinta pecel sejak lama.
Pecel Oranye
Tapi, tahukah kalau Tasikmalaya mempunyai warung pecel yang sudah melegenda? Warung Pecel ini bahkan sudah berjualan sejak tahun 1925! Tentu jadi sebuah catatan tersendiri mengingat saat itu Indonesia masih berada di bawah masa penjajahan Belanda. Karena itulah warung pecel ini bisa dianggap sebagai salah satu pionir industri kuliner di Tasikmalaya.
Buat masyarakat Tasikmalaya, Pecel Oranye mungkin masih kalah pamor dengan nama besar penggiat usaha pecel lainnya belakangan ini. Tapi, kalau menilik jauh ke belakang, Pecel Oranye tetaplah sebuah legenda yang belum tergantikan. Menurut Bu Dedi, pengiat Pecel Oranye saat ini, usaha berjualan pecel ini sudah dilakukan selama 3 generasi, dimulai dari Neneknya, Ibunya, lalu oleh beliau saat ini. Tidak heran kalau Pecel Oranye sudah memiliki pelanggan tersendiri, khususnya mereka yang sudah mengenal keberadaan tempat ini sejak lama.
Pecel Oranye berlokasi di Jalan Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya. Posisinya tepat di belokan ke arah kiri dari Jalan Pemuda, tepat di seberang Hotel Selamat. Lokasi usahanya tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman bagi mereka yang ingin menikmati hidangan di tempat.
Pecel Oranye 2
Pecel Oranye memiliki keunikan tersendiri karena bumbu kacangnya tidak melalui proses diulek, melainkan diblender. Bumbu kacang ini sudah dibikin terpisah sebelumnya sehingga bisa segera disajikan setiap kali ada pesanan dengan menambahkan air secukupnya. Siramkan pada sayuran rebus yang sudah ditata di atas piring, dan pecel oranye siap untuk disajikan. Cita rasanya menjadi lebih segar dengan tambahan perasan jeruk nipis. Terdengar seperti proses pembuatan gado-gado, ya? Tidak perlu heran juga karena Pecel Oranye tidak saja menyajikan pecel, tetapi juga gado-gado. Mungkin karena itu penggunaan bumbunya pun sama.
Dalam perjalanan usahanya, Pecel Oranye sempat menyajikan ragam menu masakan khas Thailand. Pada akhirnya, Pecel Oranye kembali mengkhususkan pada penyajian pecel dan gado-gado saja karena memang menu inilah yang lebih banyak dicari pelanggannya. Untuk memenuhi permintaan pelanggan setianya yang terkadang datang dari luar kota, Pecel Oranye menyediakan penjualan bumbu pecel keringnya. Pelanggan tinggal menyediakan sayuran rebusnya sendiri, seduh bumbunya, dan Pecel Oranye buatan sendiri sudah siap disantap.
Kalau anda adalah salah seorang penikmat pecel, yang satu ini tentu harus anda coba.

http://kulinertasik.com/2015/03/17/pecel-oranye-pecel-legenda/ by iwok abqari

Tuesday, 13 May 2014

Kopi Lawas (empang)



foto by Lisan Kirana
http://lisan-kyrana.blogspot.com/2014/03/kopi-lawas.html

Galleria Resto

Spending Saturday Night by attending Galleria Resto welcome dinner with the communities. It will be another destination for you guys to gather with friends, ganks, and family. The resto located in Dadaha has been opening. 

ayam kremes


community


lele asam manis


tom yam

sumber : http://lisan-kyrana.blogspot.com/2014/04/galleria-resto.html

Nini Anteh

Terletak di daerah strategi kota yang mudah dijangkau, Nini Anteh di jalan Dewi Sartika menjadi tempat makan favourite Tasikmalaya. Aneka makanan klasik dan tradisional tersedia. Diramu dengan cermat menghasilkan cita rasa seperti makan di rumah sendiri. Nuansa tempo doeloe nya juga sangat menyenangkan dan memberikan pengalaman berbeda bagi penikmat kuliner.











foto by Lisan Kirana

Nasi Goreng Teri Medan

image
Bingung makan apa? Cari aja nasi goreng, makanan yang pasti ada di setiap kota..hehehe Tapi untuk menu nasi goreng teri medan ini baru nemu di Tasik..:p Selain itu, kita hanya bisa mencicipinya setelah jam 6 sore karena pedagang memakai tempat di depan sebuah toko yang beroperasi dari pagi sampai sore.
image
Bagi penggemar kambing bole coba nich..hehehe Karena terpampang sebagai judul di spanduknya, kemungkinan besar nasgor kambing jadi menu spesial di tempat ini. Selain nasi goreng, banyak juga pilihan makanan lain seperti cap cay, mie/bihun, tergantung selera mau digoreng ato dikuah..:)
Beberapa kali ke tempat ini, saya memilih nasi goreng teri medan pedas (tergantung selera) yang dibandrol dengan harga Rp 10.000 saja. Kalo ditanya kenapa, selain rasanya yang lumayan untuk ukuran nasgor pinggir jalan, saya belom nemu tempat lain yang punya menu ini..hehehe Disini ada juga nasi goreng ikan asin, nah untuk yang ini, pedagang menggunakan jambal roti. Menurut saya sich udah ga aneh, karena rata2 penjual nasi goreng ikan asin yaa pake jambal roti.
image
Nasi goreng ‘Priangan’ ini bertempat di Jl. Gn. Sabeulah. Cukup mudah ditemukan dengan adanya spanduk bertuliskan namanya. Untuk harga,  kisaran Rp 8.000- Rp 15.000 ,porsi kenyang!!hehehe Buat yang suka kelaperan malem2 bole nyoba nich.. Mereka buka sampai jam 2 pagi..;) Kadang tutup lebih awal kalo semua menu habis terjual. Penjualnya masi muda, belum sempet kenalan siapa namanya :p wkwkwk Tempatnya cukup bersih dan nyaman..
tapi jangan kesana pake rok yaa.. Soalnya tempatnya lesehan.. :D
Posted from WordPress for Android
sumber : http://princessponi.wordpress.com/2013/12/18/nasi-goreng-teri-medan-kuliner-malam-di-tasikmalaya/

Gado-Gado Bang Sapri

image
Pertamanya nyimpang ke Pecel Oranye, tapi tutup.. Jalan lagi dikit dech..Jualan dari taun 1985..Brarti sekarang umurnya udah 28 tahun..wow!hehehe Selalu sendirian setiap kali kesana, karena penasaran saya tanya juga, kok ga ada yang bantuin? Iaa neng..sendiri aja, begitu ujarnya singkat. Ga berani nanya2 lagi dech..hahaha
image
Bang Sapri dengan cekatan memindah-mindahkan kol dan toge yang sepertinya sudah disiapkan sebelumnya. Setelah itu beliau memotong kentang dan tahu. Upss..hampir ketinggalan ketupatnya! Separo saja pak, ujarku..:)
image
Masi belum selesai, Bang Sapri lalu mengiris telur dengan alat manual yaitu sehelai benang. Dikasih kuah santan, lalu bumbu kacang dan sambel. Cukup membuat sebagian besar perut saya terisi..hehehe Dengan lamanya Bang Sapri berjualan, menurut saiaa rasa sudah teruji mampu mengajak warga Tasik untuk mencari gado-gado yang satu ini. Hehehe
image
Bertempat di Jl. Empang, yang dikenal juga dengan Pasar Mambo, dengan  gerobak kecil yang mudah terlihat, Bang Sapri mangkal ditemani sebuah bangku panjang yang hanya cukup buat 3-4 orang. Harganya hanya Rp 10.000 saja untuk seporsi gado-gado yang lezat tersebut. Tertarik mencoba?^^
Posted from WordPress for Android
Sumber http://princessponi.wordpress.com/2013/12/19/gado-gado-bang-sapri-wisata-kuliner-malam-di-tasik/

Tutug Oncom Naik Kelas

Tidak bisa dipungkiri, sajian kuliner menjadi salah satu daya tarik wisata pada saat ini. Para pelaku wisata tidak bisa lagi mengabaikan kunjungan wisata dengan melewatkan jajaran kuliner khas yang ada di daerah yang dikunjungi. Bukan lagi sebagai kunjungan pelengkap sebuah perjalanan wisata, melainkan sudah menjadi agenda wajib yang harus dilakoni. Bagaimanapun, kuliner adalah sebuah bagian dari budaya daerah yang sudah sepantasnya untuk diketahui bahkan dilestarikan. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kearifan budaya lokal, sudah sepantasnya kita ikut menjadi bagian dalam pelestarian tersebut, bukan?

Menggeliatnya wisata kuliner menjadi peluang usaha tersendiri bagi para pelaku bisnis. Tentunya ini menjadi efek positif dari sebuah perkembangan dunia pariwisata, bagaimana dunia pariwisata memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kalau mau dicermati, penggiat bisnis kuliner tradisional ini semakin menampakkan diri dalam geliat pariwisata. Coba tengok di daerah-daerah wisata, pebisnis kuliner mulai merebak dan menciptkan nuansa tersendiri.

Beragam kuliner tradisional (maupun modern) semakin marak. Setiap kota menunjukkan kekhasan masing-masing. Coba lihat kota Yogyakarta, penjual gudeg tersedia di mana-mana. Atau saat ke Solo, sajian Selat Solo maupun Nasi Liwetnya selalu menjadi buruan yang tak boleh dilewatkan. Begitu pula dengan Bandung, rasanya tidak lengkap kalau tidak memburu batagor maupun baso tahunya yang terkenal lezat. Jauh ke Makasar, Sop Konro dan Coto Makasar menjadi santapan wajib kalau berkunjung ke sana.

Setiap daerah hadir dengan ciri khas kuliner tersendiri. Bagaimana dengan Tasikmalaya? Rasanya tak berlebihan kalau saya menyebut Tasikmalaya sebagai kota Tutug Oncom.


Nasi Tutug Oncom

Entah kapan tepatnya Nasi Tutug Oncom atau lebih dikenal Nasi TO ini mulai membumi di kalangan masyarakat Tasikmalaya. Yang jelas, peringkat nasi TO ini sekarang sudah terangkat menjadi sajian yang lebih terhormat. Yang saya ingat, nasi TO ini sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan ketika saya kecil. Namun yang paling saya ingat,  makanan ini disajikan apabila kondisi keuangan dapur keluarga sedang krisis. Saat-saat tanggung bulan, sajian ini seringkali hadir. Kenapa seperti itu? Karena Nasi TO adalah makanan murah dan sangat sederhana. Hanya berbekal sepapan oncom, beberapa siung bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe, sebuah sajian nikmat bisa terhidang cepat di meja. Tentu saja plus nasi putih yang masih panas.

Arti kata Tutug Oncom sendiri adalah oncom yang ditutug (ditumbuk). Jadi, bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe ini diulek sampai halus, lalu campur dengan oncom. Tumbuk-tumbuk sampai bumbu bercampur rata. Setelah itu, campuran oncom dan bumbu disangrai hingga oncom matang dan kering. Campurkan sangrai oncom ini dengan nasi yang masih panas. Aduk-aduk hingga rata. Beres! Sajian nikmat dan menggoda pun bisa tersaji tanpa perlu waktu lama dan pengolahan yang ribet.

Mungkin aneh kalau ada masyarakat Tasikmalaya yang belum mengenal Nasi Tutug Oncom. Bisa dimaklumi kalau mereka ada pendatang. Tapi untuk penduduk Tasikmalaya? Akan menjadi hal yang aneh dan langka kalau berlum pernah mencoba.


Nasi TO Benhil Dadaha. Yang nggak kebagian duduk mohon antri!

Kembali ke cerita tentang Nasi TO yang sekarang begitu menjamur di Tasikmalaya, saya jadi ingat sebuah warung TO di daerah Dadaha. Saat itu awal tahun 2000-an. Mungkin warung ini adalah cikal bakal betapa sebuah warung TO bisa menjadi trend tersendiri nantinya. Warung TO Dadaha ini tidak bagus, hanya kios yang sangat sederhana. Lokasinya bahkan di pinggir sebuah aliran sungai kecil yang tidak begitu bersih. Tapi jangan salah, pengunjungnya ternyata membludak! Untuk memesan sebungkus nasi TO bahkan harus rela antri dalam waktu yang cukup lama. Belum lagi kalau pembelinya sudah saling serobot dan minta didahulukan pesanannya. Menarik sekali melihat sebuah sajian yang semula dianggap sepele ternyata naik kelas dengan cepat. Bukan hanya masyarakat kalangan menengah ke bawah yang memburu nasi TO saat ini, tapi mereka yang terlihat datang dari kelas atas.

Apa yang menarik dari sebungkus nasi TO? Karena sebuah sajian nikmat tidak perlu mahal. Tahukah berapa harga sepiring atau sebungkus nasi TO ini? Saya masih ingat, pertama kali membeli nasi TO ini cukup mengeluarkan uang Waktu itu hanya Rp. 2.500,- saja! Itu untuk nasi TO nya saja, karena makan TO tidak akan lengkap kalau tidak disantap dengan Cipe (Aci Tempe/Tempe goreng). Sebuah tempe harganya Rp. 500,-. Jadi, tidak perlu membawa dompet tebal untuk makanan nikmat dan mengenyangkan. Bahkan kalau satu piring dianggap kurang,  nambah satu atau dua porsi lagi  pun tidak akan membuat dompet jadi kurus.

Saya pernah mengajak dua orang teman dari Jakarta untuk wisata kuliner di Tasikmalaya. Saya menatap geli saat mereka sempat terbengong-bengong sewaktu membayar makanan. "Nggak salah, nih?" katanya kaget.

Tidak bisa dipungkiri kalau keberhasilan TO Dadaha akhirnya segera mendapat pengikutnya. Berbagai warung TO serentak hadir di seluruh penjuru kota. Cita rasa mungkin sedikit berbeda-beda, tapi tetap menawarkan kenikmatan dan kemurahan yang sama. Nasi TO menjadi wabah dan mulai masuk daftar kuliner yang harus disantap kalau memasuki kota Tasikmalaya.


Warung Nasi TO Mr. Rahmat

Semakin hari, warung TO yang berdiri semakin banyak. Mulai dari warung pinggir jalan sampai yang menawarkan tempat yang sangat representative. Tidak lagi harus makan di pinggir jalan kalau memang enggan, anda bisa memilih warung-warung lesehan yang luas dan nyaman. Salah satunya adalah Warung TO Mr. Rahmat, masih di sekitar komplek olahraga Dadaha. Warung yang baru dibuka dua tahun lalu ini langsung diserbu penikmat TO dan jadi tempat nongkrong yang asyik. Lokasinya di atas pesawahan, berbentuk saung, dan memiliki jumlah meja yang banyak dan ruangan yang lapang. Cobalah ke sana malam Sabtu atau Minggu, suasana akan terlihat ramai! Beruntunglah kalau anda masih mendapatkan tempat duduk.

Apakah makanan di sini mahal? Hohoho ... TO tetap murah meriah. Jangan perlu takut dompet akan terkuras kalau makan sajian yang satu ini. Meskipun pesanan ditambah dengan lauk pauk lainnya, seperti : telur dadar, tumis asin jambal, cipe, ayam goreng, dan es jeruk, total yang harus dibayar tetap terasa hemat dibandingkan makan di restoran.

Sepiring Nasi TO biasanya sudah dilengkapi dengan sambal hejo (sambal cabe rawit mentah), sambal merah (cabe merah) dan lalapan (mentimun dan leunca). Dengan porsi ini saja makan sudah nikmat. Tapi kalau ingin lebih lengkap, ada beberapa lauk tambahan yang bisa dipesan. Biasanya berupa gorengan tempe, bakwan, ikan asin goreng, tumis ikan jambal, telur dadar, ayam goreng, dll.

Murah tak perlu jadi murahan. Nasi TO memiliki kandungan nilai dan mutu gizi  yang cukup baik. Dari oncom yang menjadi bahan utama kuliner ini ternyata memiliki sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Tak perlu khawatir dengan gizinya lagi, dong?

Sekarang, warung TO serupa sudah mewabah. Di mana-mana ada. Bahkan di seruas jalan Dadaha (masih satu jalan dengan Mr. Rahmat) berderet warung-warung TO lainnya dengan jarak yang tidak berjauhan. Tak heran kalau secara berseloroh jalan ini sering dijuluki Jalan Tutug Oncom. Karena menjamurnya warung TO ini, tak heran kalau kemudian banyak yang menyebut Tasikmalaya sebagai kota TO. Kalau anda ke Tasikmalaya, tak ada salahnya menjajal makanan yang satu ini; murah, meriah, dan pasti nikmat! [iwok]

Sumber : http://iwok.blogspot.com/2013/06/wisata-kuliner-tasikmalaya-tutug-oncom.html

Menjajal Kuliner Bakso di Tasikmalaya

Jangan tanyakan lagi ‘bakso’ itu makanan sejenis apa, karena setiap orang pasti pernah mencicipinya. Oke, setidaknya pernah melihatnya, meski agak diragukan kalau ada orang yang mengaku belum pernah mencobanya. Kuliner ini sudah tidak tertebak lagi berasal dari daerah mana asalnya, karena di setiap daerah pasti ada. Memang ada istilah ‘Bakso Solo’ yang beredar di tempat saya, tapi itu dikarenakan penjualnya berasal dari sana. Kalau melihat bakso buatannya, ya begitu-begitu saja, tidak ada bedanya dengan bakso lainnya.

Tasikmalaya dikenal dengan baksonya yang enak. KATANYA. Itu pun karena setiap ada teman yang datang ke Tasik selalu minta diantar makan bakso, dan menurut mereka rasanya memang enak! Syukurlah. Seperti halnya di daerah lain, toko/warung bakso di Tasikmalaya seolah ada di setiap ruas jalan. Kenyataannya memang begitu. Tidak sulit mendapatkan jajanan bakso di kota ini. Masalah enak atau tidak enak kembali pada selera, karena toh setiap warung bakso selalu memiliki pelanggan setianya.


Foto by. wisatakulinertasik.com

Anda akan mampir ke Tasik dan ingin mencicipi bakso ala Tasik? Mungkin saya bisa memberikan beberapa alternatif pilihan untuk dijajal kelezatannya.

Mie Bakso Laksana

Mie Bakso ini mengukuhkan dirinya sebagai bakso paling populer di Tasikmalaya. Tidak hanya dikenal di kota ini saja, karena namanya ternyata sudah dikenal oleh para tamu yang datang dari luar kota. Banyak teman dan kerabat yang ketika datang ke Tasikmalaya minta diantar ke tempat ini. Rasanya memang enak. Mie bakso kuah atau yamin pun sama-sama lezatnya. Tidak heran kalau di setiap weekend atau hari libur besar, tempat ini dipenuhi oleh pelanggannya. Untungnya Mie Bakso Laksana memiliki ruangan yang luas dan berlantai 2, sehingga daya tampungnya cukup banyak. Tapi jangan heran apabila antrian terjadi pada saat libur lebaran. Pengunjung harus dilayani menggunakan nomor antrian untuk sekadar mendapatkan meja atau layanan. Kondisi seperti ini seperti halnya yang terjadi di Bakso Akung Bandung, yang selalu dijubeli pembeli.

Dengan mengedepankan kualitas dan rasa, harga mie bakso Laksana terbilang paling mahal di Tasikmalaya, yaitu Rp. 20.000,- untuk satu porsi. Penambahan asesoris seperti babat atau pangsit tentu dikenakan harga tambahan. Ciri khas bakso Laksana ini adalah mie produksi sendiri dan bakso dagingnya yang kecil-kecil.

Berlokasi tepat di tengah kota, Jl. Pemuda no. 5 Tasikmalaya, Bakso Laksana hanya beberapa puluh meter saja dari Masjid Agung Tasikmalaya. Laksana membuka cabang di Jl. Mitra Batik dan di Foodcourt Plaza Asia.


Mie Bakso Firman

Ini adalah pendatang baru yang langsung meroket dan merebut perhatian penikmat bakso. Jubelan pengunjung selalu terjadi setiap harinya. Ciri khas dari bakso Firman ini adalah menggunakan mie gepeng dan lebar (semacam kwetiau) yang diproduksi sendiri. Penjualnya selalu meyakinkan kalau mie mereka bebas dari formalin dan boraks. Isu tentang mie berformalin memang sempat merebak di berbagai penjuru tanah air beberapa waktu yang lalu. Mereka memproduksi mienya secara bertahap, tergantung dari kebutuhan. Karena itu tidak ada mie yang akan tersisa dan basi. Mereka juga menyediakan bihun untuk yang tidak menyukai mie, atau bisa dicampur kalau suka. Jenis baksonya sendiri ada tiga macam; bakso urat (ukuran besar), bakso daging (kecil-kecil), dan bakso tahu.

Saus yang digunakan cukup pedas. Untuk yang tidak menyukai pedas, hati-hati dengan takaran saus anda. Yang maniak pedas, sambal cabenya pun sudah tersedia. Ah ya, jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis (ketimbang cuka) untuk membuat bakso anda menjadi lebih segar.  Jujur, ini lokasi mie bakso favorit saya!

Lokasinya tepat di persimpangan lima (Bunderan) yang merupakan pembagian arah menuju Bandung , Ciamis, dan kota Tasik, atau di ujung jalan Dr. Sukarjo Tasikmalaya.  Untuk satu porsi cukup merogoh uang Rp. 11.000,- saja.

Mie Bakso Ojo

Tidak jauh dari Mie Bakso Firman, tepat di depannya terdapat sebuah jalan kecil. Anda cukup berjalan sekitar 50 meter saja untuk mencapai Mie Bakso Ojo. Nah, yang ini pun tidak kalah istimewa dan sedapnya. Pengunjungnya pun seringkali membludak sehingga lepas magrib saja terkadang warung bakso ini sudah tutup karena habis! Waks.

Untuk penikmat bakso yang menyukai mangkuk baksonya dipenuhi oleh potongan kikil, tulang muda, atau sum-sum, ini adalah lokasi yang tepat. *krauk*

Harga satu porsi Rp. 12.000,- sudah termasuk kikil dan teman-temannya. Jangan lupa, ketersediaan kikik, sumsum, dan tulang muda hanya selama persediaan masih ada :D


Mie Bakso Tiara Mulya

Mie Bakso ini dulunya berada di Jalan Galunggung, tetapi sekarang sudah pindah ke Jl. HZ. Mustofa Tasikmalaya, tepat di depan Plaza Asia. Sekilas penampilan mie bakso ini mengingatkan saya pada Mie Bakso Laksana. Ukuran mie dan bulatan baksonya senada. Rasanya? Serupa tapi pasti tak sama. Yang terasa khas dari mie bakso ini adalah saosnya, terasa sedikit asam. Tentu bukan asam karena basi, tapi karena cita rasanya saja yang memang begitu.

Mie Bakso TM cukup dikenal sehubungan nama Tiara Mulya sendiri yang sudah mencuat duluan sebagai Perusahaan Catering ternama.

Harga satu porsi Rp. 13.000,- belum termasuk kalau ditambah babat atau pangsit.

Oya, lokasi semula Mie Bakso TM di Jl, Galungnggung sekarang ditempati oleh Mie Bakso Siliwangi. Dari sajian dan rasanya hampir sama. Mungkin karena resepnya yang serupa mengingat –kabarnya- pemilik kedua Mie Bakso ini masih saudara dekat.


Mie Bakso Widji

Mungkin Mas Widji inilah yang membawa pertama kali bendera ‘Bakso Solo’ di Tasikmalaya, karena setelah itu ternyata bermunculan nama ‘Bakso Solo’ lain yang ingin mengekor kesuksesannya.  Saya masih ingat, saat masih SMA dulu, mas Widji ini membuka kiosnya yang sederhana di perempatan jalan Tanuwiyaja – Sutisna Senjaya (mudah-mudahan saya tidak salah orang). Lambat laun baksonya laris dan diburu orang sehingga akhirnya mampu membeli sebuah bangunan di Jl. Rumah Sakit Tasikmalaya. Sekarang toko bakso sekaligus tempat tinggalnya terlihat megah dengan sebuah kendaraan roda empat keluaran baru di depannya. Hebat!

Lokasi Mie Bakso ini tepat berada di depan RSU Tasikmalaya dan bersebelahanan dengan SMAN 1 dan SMA Muhammadiyah, membuat warung bakso ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Ciri khas dari bakso ini adalah bakso dagingnya yang lebih padat dan kenyal dibanding bakso-bakso lain yang pernah saya cicipi.

Harga satu porsi Rp. 8.000,-


Mie Bakso Sari Rasa

Ada dua lokasi Mie Bakso yang mengusung nama Sari Rasa ini. Satu di jalan HZ. Mustofa (dekat Asia Toserba), dan satu lagi di Jl. Tentara Pelajar (depan Martabak Ramayana).  Kalau dilihat dari beberapa foto yang dipajang sebagai asesoris ruangan, terlihat banyak artis yang pernah berkunjung ke tempat ini. Salah satunya adalah Ariel NOAH (waktu masih culun tapi. Hehehe). Namanya artis saja sudah datang berkunjung, sudah dipastikan sajiannya pasti cukup istimewa. Oke, kembali ke selera sih memang, tapi kehadiran artis tentunya bisa menyedot lebih banyak perhatian.

Harga : Rp. 12.000,- satu porsi.


Mie Bakso Kurdi

Mie Bakso yang berlokasi lesehatan di Jalan Gunung Sabeulah ini cukup unik karena selain menggunakan mie, juga ditambahi dengan irisan kol. Aneh? Oh tidak, tapi enak! Bakso dagingnya imut-imut, tapi cukup banyak.

Harga : Rp. 9.000,- satu porsi.


Mie Bakso Loma
Saat bulan ramadhan tahun lalu, saya dibuat kesal saat malam-malam pergi ke sana. Saya pikir, saya bisa segera menikmati nikmatnya bakso pedas yang sudah terbayang-bayang sejak siang hari. Ups. Tapi saat tiba di sana, antriannya itu bow, puanjaaaang. Begitu tiba giliran saya, si Masnya bilang; “Maaf, pak, habis!” Hiyaaaaa …

Mie bakso ini berlokasi di jalan Tarumanagara, seberang SD Pangadilan.

Harga : Rp. 15.000,- (kalau nggak salah. Hehehe)



Selain itu ada beberapa lokasi Mie Bakso lainnya :
Mie Bakso Gesa – Jl. Ahmad Yani, sebelah Duren si Madu.
Mie Bakso Kiman – Jl. Ahmad Yani (Pasar Pancasila)
Mie Bakso Oding – Ruko Pasar Pancasila
Mie Bakso Borju – Jl. Terusan BCA – Paseh
Mie Bakso Ceria – Jl. Ahmad Yani (setelah Pasar Pancasila)
Dan Mie Bakso lainnya, plus Mie Bakso gerobak keliling

Ada yang mau menambahkan? :D

Sumber : http://iwok.blogspot.com/2013/01/menjajal-kuliner-bakso-di-tasikmalaya.html

Hunting Kuliner KWKT Pecel Orange



Jl. Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya
Buat orang Tasikmalaya, Pecel Oranye mungkin masih kalah pamor dengan deretan pecel di daerah kalektoran. Sebut saja pecel Bi Iyoy atau Bi Encar. Tapi, kalau menilik jauh ke belakang, Pecel Oranye tetaplah sebuah legenda yang belum tergantikan. Bagaimana tidak, Pecel Oranye sudah berdiri sejak tahun 1925! Sejak zaman Belanda masih berkuasa di bumi Indonesia, bro! Informasi inilah yang membuat saya dan beberapa teman dari Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT) ternganga ganteng. 1925, zaman bapak saya aja belum lahir! Hiyaaa ...

Tidak salah memang kalau jadwal KWKT minggu kemarin adalah menjajal lokasi pecel legendaris ini. Karena ternyata, sebagian besar anggota KWKT belum pernah nyicipin pecel yang satu ini. Termasuk saya!  Sebagai anggota komunitas yang ngakunya pencinta kuliner Tasik, kenyataan bahwa pecel ini sudah unjuk gigi sejak zaman penjajahan jelas sangat-sangat menohok. Hellow, where have we been?  Fyuh, maafkan kami (Eh, saya ding) yang nggak pernah aware tentang sebuah kuliner yang harus tetap dilestarikan.

Buat saya yang doyan sama pecel, karedok, lotek, dan semua jenis kuliner sejenis, pecel yang satu ini memang tidak boleh dilewatkan. Really worth trying, lah. Apalagi karena cita rasanya yang cukup menggoyang lidah dan unik. Berbeda dengan pecel khas Sunda biasanya yang semua bumbu kacangnya diulek, lalu bumbu dan sayurannya diaduk-aduk hingga jungkir balik, Pecel Oranye cukup berbeda. Semua sayuran rebus (kol, kacang panjang, toge, dll) ditata di atas piring. Setelah sayuran tersaji dengan cantik dan mempesona (halah), siram deh dengan bumbu kacangnya. Sajikan dengan kerupuk aci, maka pecel oranye pun siap untuk dihajar! Jebreeeet.


Gado-gado Pecel Oranye

Eh, sebenernya, saya kemarin pesan Gado-Gado sih, bukan pecelnya. Halah, ini kenapa ya kok saya plin-plan begini? Tenang, di Pecel Oranye ini, pecel dan gado-gado tidak jauh berbeda dalam rasa dan bentuknya. Beda isiannya doang. Jadi, review saya nggak bakalan jauh meleset (mungkin). Kalau pecel seperti yang saya jelaskan di atas, nah kalau gado-gado ada sedikit beda. Selain sayuran yang sama, untuk gado-gado ditambahkan potongan kentang, tahu, dan juga telur rebus. Biar rame dan meriah (halah lagi), setelah disiram bumbu saus kacang, dihias dengan kerupuk aci dan emping. Itulah bedanya. Jadi, kalau doyan emping, pesennya harus gago-gado, karena paket pecel nggak pake emping. Tapi kalau keukeuh pengen pecel plus emping, coba aja minta sama si Ibu. Mudah-mudahan aja dikasih empingnya. Hehehe.

Yang membedakan pecel/gado-gado di sini, selain bumbu kacangnya yang sudah dibikin terpisah (kayaknya sih diblender, soalnya haluuus banget bumbunya), juga adanya perasan jeruk sambal. Biasanya di tempat lain, jeruk sambel diberikan opsional dan disajikan terpisah. Nah, di Pecel Oranye ini, jeruknya sudah diperesin sama si Ibu. Jadi, rasa pecel dan gado-gadonya sudah ada aroma jeruk dan rasa asem-asem seger gitu. Kalau misalnya anda nggak suka jeruk makan jeruk, eh ... nggak suka ditambahin jeruk maksudnya, jangan lupa wanti-wanti ke si ibu sebelumnya ya.

Pecel Oranye berada di Jalan Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya. Posisinya pas di belokan ke arah kiri dari Jalan Pemuda, tepat di seberang Hotel Selamat. Menurut cerita Bu Edi, Pecel Oranye ini sudah ada dan dikelola turun temurun selama 3 generasi. Siapakah Bu Edi ini? Perkenalkan, dialah penjual pecelnya saat ini! Jadi, yang pertama berjualan Pecel Oranye ini adalah Neneknya, lalu dilanjutkan sama Ibunya. Saat Ibunya Bu Edi ini wafat tahun 1990, Bu Edi-lah yang akhirnya meneruskan usahanya.  Sampai sekarang.

Meskipun tidak seterkenal Pecel Kalektoran saat ini, Pecel Oranye masih memiliki penggemar tersendiri. Terbukti dari banyaknya pelanggan yang berdatangan. Apalagi ternyata Pecel Oranye ini juga menerima penjualan bumbu pecel keringnya. jadi, kalau mau bikin pecel sendiri di rumah, tinggal seduh bumbunya, jadi deh Pecel Oranye buatan sendiri.

Doyan pecel (atau gado-gado)? Yang satu ini harus anda coba. Dengan  harga Rp. 15.000,- per porsi, anda bisa menikmati sepiring pecel legenda di Tasikmalaya.

sumber : http://iwok.blogspot.com/2013/12/kuliner-pecel-oranye-pecel-legenda.html

Hunting KWKT Berliner Brotfabrik


 
Mendung sudah menggelayut saat saya dan rombongan KWKT (Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya) merapat ke Jalan Mayor Utarya. Hari masih cukup siang, baru pukul setengah 2, tetapi gelagat turun hujan sudah mulai terasa. Kami harus segera bergegas apabila tidak ingin agenda siang ini menjadi sia-sia. Ada sebuah target yang harus kami cicipi siang itu, dan sepertinya tidak bisa ditunda lagi. Tongkrongan ini sedang menghangat belakang ini, seiring baru diresmikan grand launching-nya. Sebagai ‘komplotan’ pemburu kuliner di Tasikmalaya, rasanya kami tidak boleh ketinggalan langkah dibanding penikmat kuliner lainnya. Karena itu, meski hanya dihadiri beberapa gelintir orang saja, kopdar KWKT Minggu ini harus tetap dilaksanakan. Let’s go!
 

Joghurtsahnetorte - Rp. 13ribu
Tepat di samping SD Citapen, anggota KWKT yang kali ini umpel-umpelan di dalam mobil Kang Guguh akhirnya sampai di sasaran. Nuansa serba hijau langsung terasa bahkan ketika kami baru menjejak di halaman berumput yang cukup lapang. Beberapa pasang kursi dan meja besi, serta payung-payung lebar tertata rapi di beberapa penjuru halaman, semua bernuansa serbahijau. Foto-foto ukuran raksasa terpajang manis menutupi sepanjang dinding tembok. Ada yang terasa asing dengan foto-foto tersebut, karena sama sekali tidak menampakkan suasana lokal tanah air. Foto-foto ini menyajikan pemandangan negeri yang cukup asing. Setidaknya, bukan pemandangan yang biasa kita lihat sehari-hari.

Ke manakah sebenarnya kita menuju?

Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe. Tulisan itu terpajang jelas di depan bangunan berdinding putih dengan sentuhan –lagi-lagi—warna hijau. Wangi roti dari panggangan langsung menguar tajam saat langkah kami semakin mendekat. Hmmm ... cukup menggelitik penciuman dan membuat perut berkeriuk ribut. Nyam-nyam nih.
 

Strawberrysahnetorte - Rp. 13ribu
Buat sebagian orang, nama Berliner Brotfabrik mungkin masih terdengar asing. Bukan saja karena namanya yang tidak familier, tetapi juga karena memang tempat ini belum lama hadir. Ya, kali ini kita menyerbu tongkrongan baru, yang baru hadir sebulan terakhir, menyemarakan ragam kuliner di Tasikmalaya. Meski sudah mulai beroperasi sejak tanggal 13 Maret, Berliner Brotfabrik baru diresmikan pada tanggal 29 Maret.

Lalu, mengapa namanya harus serba asing seperti itu? Di tengah rintik hujan yang mulai turun, kami cukup beruntung. Kang Hena Muliana, pemilik cafe ini, mau bergabung bersama kami untuk sedikit bercerita mengenai latar belakang pendirian cafe ini, dan menjelaskan tentang serba-serbi roti andalannya.

 
Brotchen Mit Wurst - Rp. 9ribu

Berliner Brotfabrik berasal dari bahasa Jerman. Brot adalah roti, Fabrik adalah Pabrik. Sudah jelas kan maksudnya? Sementara Berliner sendiri diambil dari kata Berlin, Ibukota dari negara Jerman. Secara selintas saja bisa diartikan kalau Berliner Brotfabrik adalah Pabrik roti dari Berlin (Jerman)! Tidak semata-mata Kang Hena mengambil nama berbau Jerman seperti ini kalau tidak ada kaitannya dengan kuliner yang disajikannya. Ya, di tempat ini anda bisa menikmati beragam roti, kue, dan pizza khas asal Jerman. Unik? Tentu saja. Belum ada tempat lain (di Tasikmalaya) yang benar-benar menyajikan penganan-penganan khas dari negara Hitler ini. Apalagi, semua roti yang disajikan benar-benar fresh from the oven!

Kenapa Kang Hena tiba-tiba tercetus untuk membuka cafe dengan menyajikan roti-roti dari negeri yang jauh ini? Kenapa bukan berjualan cilok saja yang asli Tasik? Itu yang akhirnya kami tanyakan. Ternyata, semua berawal dari kiprahnya sebagai konsultan bahasa di sebuah perusahaan di Jerman. Seringnya wara-wiri ke Jerman membuatnya sering mengamati dan mencicipi beragam kuliner di negara tersebut. Keinginannya untuk membuka sebuah cafe ala Jerman pun tercetus saat kontrak kerjanya di sana sudah berakhir. Apalagi rekan kerjanya di Jerman menanyakan hal tersebut; “Setelah ini, apa yang ingin kamu lakukan di Indonesia?”

 
Cremebretzel - Rp. 8ribu

Dijembatani sebuah lembaga sosial yang berorientasi pada pengembangan potensi usaha pemuda di negara-negara berkembang, Kang Hena pun mendapatkan peluang tersebut. Selama dua minggu, beliau mendapatkan pelatihan usaha di bidang bakery di Jerman. Tidak hanya itu, selama 3 bulan, Kang Hena ditempatkan di sebuah pabrik roti ternama di Jerman untuk magang. Berbekal pelatihan dan pengalamannya selama magang, akhirnya Berliner Brotfabrik pun segera berdiri di Tasikmalaya.

 

Nyam-nyam!
Menyajikan penganan yang berasal dari luar negeri tentu tidak bisa main-main. Banyak standar yang ditentukan dan harus diterapkan oleh Kang Hena. Salah satunya adalah penggunaan bahan-bahan yang tidak bisa digonta-ganti seenaknya. Karena itu, untuk mempertahankan cita rasa agar sesuai dengan rasa aslinya di Jerman sana, Berliner Botfabrik tetap menggunakan bahan-bahan yang diimpor langsung dari negara asalnya. Kang Hena menjamin roti-roti buatannya dibuat sesuai resep yang pernah dipelajarinya selama di Jerman. Tidak hanya itu, supervising langsung dari guru-gurunya di Jerman tetap berlangsung sampai sekarang. Setelah hadir pada grand launchingnya, supervisor-nya dari Jerman akan datang kembali pada bulan Juni untuk mengontrol pengembangan usahanya. Mantap, kan?

Berliner Brotfabrik adalah tempat nongkrong yang asyik sambil cemal-cemil dan ngupi-ngupi. Berada di ruas jalan yang tidak dilalui jalur utama kendaraan membuat suasananya tidak terlalu bising. Meskipun begitu, lokasinya yang berada di tengah kota membuatnya mudah dijangkau dari mana-mana. Sayangnya, tongkrongan ala outdoor seperti ini menjadi tidak asyik lagi kalau turun hujan, karena payung-payung lebar tidak cukup menaungi air hujan yang terbawa angin. Bisa basah kuyup!

Member KWKT bareng Kang Hena Muliana (kiri)

Bagaimana dengan rasa kulinernya? Karena tidak mungkin memesan semua jenis penganan yang ada, kami mencicipi beberapa di antaranya. Meski namanya sering bikin kepleset lidah, atau malah nggak hapal saking belibetnya, tapi rasanya maknyus! Coba saja lihat foto-foto yang ada di sini, dan bayangkan kelezatannya seperti apa. Penasaran? Ayo, langsung serbu ke TKP!

Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe
Alamat : Jl. Mayor Utarya no. 46 Tasikmalaya
Buka : Pukul 10.00 – 19.00 Wib

Range harga : Rp. 7ribu – Rp. 13ribu

sumber : http://iwok.blogspot.com/2014/04/review-berliner-brotfabrik-konditorei.html

Hunting Kuliner KWKT Baso H. Kiman






Hunting KWKT Saung Rangon